Di Ujung Penantian
“Berapa kali kuharus katakan cinta….
Berapa lama kuharus me….”
“Jio-Jio, kalo lu suka ungkapin donk, jangan di
pendam mulu. Lagian lu mau nunggu apa lagi, nunggu si Aya di ambil orang lain?”.
Nyanyian Jio terpotong gara-gara kedatangan
sahabat dekatnya itu.Jio dan Gilang adalah sahabat karib sejak di SMP dulu.Jadi
bukan hal yang aneh lagi kalau Gilang tahu semua tentang Jio. Tentang perasaan
Jio yang diam-diam menyukai Aya, gadis
cantik di sekolahnya yang tidak lain lagi adalah teman dekat mereka berdua.
“ah,, elu Gilang, gangguin gua konser aja”. jawab
Jio sebel.
“lha elu sih nyanyi kok sambil melamun, ntar kalau
kesambet baru tau rasa” Gilang membela diri.
“mau gimana lagi Lang, gua juga bingung gimana
cara yang paling tepat dan yang paling romantic buat nembak Aya? Sebenarnya gua
sudah nggak sabar lagi pengen ngebuktiin ke Aya kalo gua cinta sama dia”.
“halah…. Masalah gitu aja di pikirin.Tenang aja
Ji, serahkan semuanya sama gua, Gilang Agus Setiawan”.
“Sombong banget lu, awas kalo nggak berhasil”
“udah lah Ji, don’t worry be happy ok”
Mereka sedang asyik menyusun rencana, tiba-tiba
Jio terkejut ketika ada seseorang yang memukul bahunya dari belakang.
“Aya!!!”.Jio terkejut sambil bengong menatap gadis
yang berdiri di belakangnya.
“Ada apa sih, kayaknya sibuk banget sampai-sampai nggak
ada yang nyapa gua?”
“Gak ada apa-apa kok Ai, kita berdua cuma…”
“Gini lho Ai,” Gilang memotong kata-kata Jio dan
mencoba menjelaskan pada Aya agar dia tidak penasaran. “kita berdua mau ngajak
elu makan bareng ntar malam. Tapi kayaknya nggak seru kalau Cuma bertiga,
gimana kalo lu ngajak satu temen lagi biar rame gitu lho Ai?”.
“oooh, gitu ya . tapitunggu dulu dalam rangka apa nih
kalian mau ngajak makan bareng?”.
“Kemarin team basketnya Jio menang melawan SMA
musuh bebuyutan kita, ya istilahnya syukuran gitu lho Ai”
“Wah,, selamat ya Jio, gua ikut seneng dengernya”
“Iiiiya, terimakaasih Aya” Jawab Jio grogi.
“Jadi gimana Ai, bisa kan ntar malem?”.Gilang
memperjelas.
“Berrres,, tapi dimana?”
“Dirumah makan Yamada, pukul 7”
“Ok, gua pasti dateng”Jawab Aya yakin.
“Jangan lupa bawa teman ya Ai, kalau bisa yang
cewek biar jadi pasangan gua, heheh”
“Iya iya jangan khawatir. Gua masuk kelas dulu ya,
sampai ketemu ntar malem”
“ok!!” Jawab Jio dan Gilang bersamaan.
* * *
Pulang
sekolah Jio dan Gilang langsung menuju ke restoran Yamada.Mereka membooking dua
meja dan menghiasi tempat itu dengan aneka bunga dan lilin-lilin yang membentuk
tanda cinta.Dengan sekejap mereka telah merubah tempat yang sederhana itu
menjaditempat yang sangat indah dan romantis.Di rumah, Jio belajar merangkai
kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya pada Aya. Sambil memilih-milih
pakaian, dia mondar-mandir di depan cerminnya.
Tepat
pukul tuju Jio menjemput Gilang penuh semangat dan hati berbunga-bunga.Sesampainya
di restoran Jio dan Gilang merapikan tempat yang sudah mereka pesan siang tadi,
lilin-lilin di nyalakan, tapi hati Jio mulai diliputi kebimbangan dan resah
karena sudah jam tuju lebih Aya belum datang juga. Ia berkali-kali mencoba menghubungi
ponsel Aya tapi hasilnya nihil, tidak ada yang mengangkat telfon itu. Malam
semakin larut, bunga-bunga yang dihias Jio dan Gilang berserakan tertiup angin,
cahaya lilin pun semakin meredup, tapi gadis yang dinantikannya tidak juga
muncul. Hati Jio berkecamuk merasa dikecewakan oleh Aya, dalam hati Jio berkata
“tega sekali lu Ai, lupakan janji yang lu buat sendiri, gua benar-benar kecewa
sama lu Aya”.
“Gua
mau pulang” Ucap Jio memecahkan keheningan malam itu.
“Lu
nggak mau nunggu Aya sebentar lagi?” Cegah Gilang.
“nggak
Lang, Aya nggak bakalan dateng. Gua bukan orang yang penting baginya, yang bisa
mendapatkan posisi penting di hatinya.Bahkan untuk menyita waktunya sedikit
saja untuk makan malam dengan gua dia gak bisa”.
“Mungkin
Aya masih dijalan Ji, macet atau apalah”
“Kalau
memang seperti itu kenapa dia nggak kasih kabar, ditelfon aja nggak di angkat”
“mmm,,,,
mungkin dia nggak denger kalau ada telfon dari lu Ji, maklum di jalan kan rame,
bising. Di tunggu dulu lah sebentar Ji”
“sudahlah
Gua capek, mau pulang dulu, lu masih tetep mau disini?”
Jio
melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Gilang. “Tunggu Ji, gua ikut pulang
aja”. Teriak Gilang sambil mengejar langkah Jio yang lesu dan lunglai.
* * *
Hari-hari
Jio kelam dan kelabu, dia seolah-olah kehilangan semangat hidupnya lagi.Tiga
hari setelah batalnya rencana makan malam itu, Jio enggan keluar dari rumah,
bahkan dia tidak pernah masuk sekolah ponselnya pun di matikan.Gilang merasa
sangat bersalah melihat keadaan sahabatnya yang seperti itu.
Hari
berganti hari, sudah satu miggu Jio tidak masuk sekolah dan yang paling membuat
Gilang bingung adalah Aya tidak pernah menampakkan wajahnya lagi sejak kejadian
malam itu.Gilang berkeliling mencari-cari gadis itu tapi tidak juga berhasil.
Ketika Gilang berteduh ditaman karena capek memutari sekolahan untuk mencari
Aya, ada gadis tinggi bermata sipit yang tidak lain adalah teman sekelas Aya.
Alangkah terkejutnya Gilang ketika mendengar dari gadis itu ternyata Aya tidak
pernah masuk sekolah sejak kejadian malam itu.
Gilang
berusaha mencari informasi mengapa Aya menghilang dari sekolah, tapi ia merasa
kelelahan karena tidak ada yang membantunya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi
menemui Jio dan menceritakan yang terjadi pada Aya.
“permisi
tante, Jio nya ada?” sapa Gilang pada wanita yang membukakan pintu, yang tidak
lain lagi adalah ibunya Jio.
“iya
ada, tapi kalau boleh tante tau kamu siapa?” Tanya wanita itu ramah.
“Saya
Gilang temannya Jio satu kelas, sudah tiga hari ini Jio tidak masuk sekolah, apa Jio sedang
sakit atau …”
“Jio
sehat-sehat saja, tante juga bingung melihat kondisi Jio, beberapa hari ini dia
nggak mau keluar rumah, nggak mau nerima telfon, makan pun kalau nggak tante
yang maksa dia nggak akan mau. Berkali-kali tante berusaha menanyakan masalah
apa yang dihadapinya, tapi dia tetap tidak mau menjawab dan selalu berpura-pura
menampakkan wajah cerianya dihadapan saya”
“Apa
saya boleh menemuinya tante, mungkin saya bisa sedikit menghibur Jio atau mencoba
mencarikan solusi buat dia?”
“Tentu
nak, tante malah senang kalau ada teman Jio yang mau menghiburnya. Silahkan
masuk, lurus saja itu kamar Jio, tante buatkan minuman dulu”
“Nggak
usah repot-repot tante”
“Tante
nggak repot kok, hanya minuman saja, sudah temui Jio sana, biar bisa tenang
pikirannya”.
Gilang
melangkah kekamar Jio dengan gusar dan bimbang, takut kalau Jio tidak mau
bertatap muka dengannya. Tapi ia segera menghilangkan pikiran negative yang ada
di benaknya itu.
“tok-tok-tok,,,”
Gilang mengetuk pintu kamar Jio dengan ragu.
“masuk
aja ma, nggak di kunci kok” sahut Jio dari dalam kamar, tanpa menyadari bahwa
yang datang adalah sahabat dekatnya. Lama Gilang berdiri memperhatikan
shabatnya yang semakin kurus itu, kemudian Jio membalikkan badannya dan ia
sangat terkejut karena kedatangan Gilang.
“Gilang,
!!”Sapa Jio sambil terbelalak kedua matanya.
“eh,
iya Ji, lu tambah kurus aja, nggak pernah makan ya ?” Gilang membalas sapaan
Jio.
“ah,
lu bisa aja Lang. gimana kabar lu ?”
“gua,
seperti yang lu liat, tetap segar bugar. Nggak kayak lu, belum berusaha udah nyerah”.
“he,,,
“ Jio tersenyum tanpa memberi komentar.
“tapi
sekarang udah mendingan kan, kalau gua ajak bahas masalah Aya masih kuat kan?
Hehe,,,” Gilang menggoda Jio.
“emang
lu pikir gua depresi gitu, sampe nggak mau bahas masalah Aya?”
“ya
kali aja Ji”.
“ada
apa dengan Aya, kenapa tiba-tiba lu mau bahas masalah Aya?”
“beberapa
hari ini Aya nggak masuk sekolah Ji, gua
dah coba datang kerumahnya tapi hasilnya nihil, rumah Aya sepi nggak ada
orangnya sama sekali. Gua juga udah berkali-kali Tanya ke teman-teman di kelas
Aya tapi nggak ada yang tau kemana dia
pergi. Gua jadi bingung Ji makanya gua datang kesini, gua kira elu tau kemana
Aya pergi”.
“apa
lu udah coba tanya sama Nina, dia kan temen deketnya, mungkin dia tau
keberadaan Aya?”
“belum
Ji, tadi pagi Nina nggak ada di kelasnya”
“kalau
begitu gua ganti pakaian dulu , kita cari Aya sekarang juga”
“apa,,,!!
lu gila apa mau cari kemana?”
“kemana
aja, udah lah nggak usah banyak komen ayo berangkat”.
Jio
melangkah tanpa memperdulikan keluhan Gilang.
“loh
mau kemana, ini tante buatkan minuman, diminum dulu ya” tanya ibu Jio sambil
bengong karena merasa aneh melihat Jio dan Gilang yang terburu-buru mau pergi.
“kita
berdua buru-buru ma, ntar aja minumnya, ntar Gilang mampir kesini lagi kok. Iya
kan Lang?”Jio meyakinkan ibunya, Gilang hanya mengangguk menanggapi ucapan Jio.
“ya
sudah hati-hati di jalan”
“ok
mam, kita berangkat dulu ya”.
Berkali-kali
Jio mencoba menghubungi ponsel Aya tapi tidak ada jawaban.Kemudian mereka
menuju rumah Aya tapi rumahnya tetap sepi seperti tidak berpenghuni.Jio mencoba
mengetuk pintu rumah itu, setelah ketukan yang ketiga Jio dan Gilang kaget
bukan main ketika ada perempuan separuh baya yang membukakan pintu itu.
Perempuan itu tidak lain lagi adalah ibunya Aya. Mata perempuan itu basah,
mukanya lesu seperti sedang ditimpa musibah yang sangat besar. Dengan
terbata-bata Jio memberanikan diri menyapa perempuan itu ,
“ssssiang
tante, Aya nya ada ?”
“maaf
kalian siapa ya ?”
“oh
iya, saya Jio dan ini Gilang teman saya,
kami kakak kelasnya Aya, biasanya kan kami sering ngobrol bareng dia
tapi beberapa hari ini kami tidak melihatnya di sekolah, apa Aya sedang nggak
enak badan tante ?” Jio menjelaskan.
“mmmm,,,,
Aya…”
“tenang
saja tante kami orang baik-baik kok, kami Cuma ingin memastikan apakah Aya
baik-baik saja atau gimana. Tante nggak usah khawatir, kita nggak akan
macem-macem kok tan” Gilang meyakinkan ibunya Aya.
“sebenarnya
Aya …”
“siapa
ma, kok gak disuruh masuk ?” Tiba-tiba suara yang sudah tidak asing lagi di
telinga Jio itu terdengar dari ruang tamu, seorang gadis yang meluluhkan hati
Jio, memberi semangat dalam hidup Jio dan juga mematahkannya.Gadis itu berjalan
pelan-pelan sambil memegang tongkat kecil ditangannya. Wajahnya kusut , matanya
sembab seperti habis menangis.
“Aya…..”
Jio terperanjat melihat gadis yang disayanginya menderita seperti itu.Tanpa pikir
panjang lagi Jio langsung lari dan memeluk gadis itu.
“Jio…..”
ucap Aya lirih, tubuhnya yang mungil bergetar dalam dekapan Jio, matanya
meneteskan air mata kemudian Jio melepaskan pelukannya dan memandangi gadis
pujaan hatinya itu lekat-lekat.
“mengapa
lu jahat banget sama gua Ai, mengapa lu
tega ngelakuin itu ke gua?” Jio berkata sambil memegang tangan Aya.
“maaf
Ji, gua….” Jio menutup mulut Aya dengan jari telunjuknya dan menghentikan
kata-kata Aya.
“ssst,,,
jangan diteruskan , udah cukup Ai mengapa lu bisa sejahat ini sama gua, ngebiarn
gua nunggu tanpa ada kabar kejelasan dari elu. elu bener-bener keterlaluan Ai,
bahkan lu nggak kasih tau gua sedikit aja derita yang lu hadapi kenapa lu
tega sama gua Ai ?”.
“maafin
gua Ji, malam itu gua dan Maya menuju tempat yang udah kita janjikan, gua seneng
banget Ji, gue jalan tergesa-gesa tanpa memperdulikan seruan dari Maya, ketika
menoleh kebelakang mata gua terasa silau karena cahaya mobil yang melaju sangat
kencang. Dan ketika gua sadar, semua menjadi gelap gua bingung nggak tau ada
dimana dan setelah mendengar penjelasan dari mama gua baru sadar kalau
kecelakaan itu membuat gua jadi seperti ini, gua buta Jio, gua nggak bisa
melihat lu lagi, gua….”
“gua
nggak marah sama elu Ai, gua nggak akan
bisa marah sama elu” lagi-lagi pelukan Jio mampu membungkam mulut Aya.
“elu
tau nggak Ji, malam itu gua seneng banget mau makan malam sama elu, hati gua
berbunga-bunga seakan ada kehidupan baru yang mau menjemput gua, tapi setelah gua
buka mata dan nggak lagi bisa lihat indahnya cahaya di dunia ini semua itu
harapan pupus gua bukan Aya yang dulu lagi, gua nggak bisa seperti dulu lagi
Ji”
“kalau
aja gua bisa memutar kembali waktu, gua bersedia menggantikan posisimu Ai, biar
gua yang nanggung derita ini”
“tidak
Jio, ini memang udah takdir gua jadi orang buta selamanya siapapun nggak akan
bisa merubahnya”
“Aya,
boleh gua minta sesuatu sama elu ?”
“apa
Ji ? tentu saja boleh selama gua bisa memberikannya kenapa enggak”
“tolong
izinin gua menjadi kawan hidup lu Ai, gua
pengen jadi penerang di kehidupan lu, kalau memang gua nggak bisa menggantikan
posisi lu biarkanlah sedikit aja gua ikut ngerasain penderitaan lu, bolehkan Ai
?”
“nggak
Ji, gua nggak pantas buat lu, elu orang yang hebat, pinter masih banyak gadis
yang pantas dan mau sama elu. Lagi pula apa yang bisa diharapkan dari gadis
cacat seperti gua, gua nggak bisa apa-apa lagi Jio, gua ….”
“elu
nggak boleh kaya gitu Ai, gua cinta sama elu bukan karena elu cantik, kaya,
atau apalah gua tulus cinta sama elu Ai”
“mungkin
itu Cuma perasaan simpati aja Ji, elu ngerasa kasihan karena lihat kondisi gua
saat ini”
“baiklah,
kalo gitu gua akan mencongkel kedua mata gua ini biar elu lega dan nggak akan ada
lagi perbedaan diantara kita” Jio berkata dengan keseriusannya kemudian dia
melepaskan tangan Aya dan melangkah menjauhi Aya.
“Jio
apa yang elu lakuin Ji, Jio jangan lakukan hal bodoh itu kumohon, mama bantu Aya
mencegah Jio ma tolong, Jio ….”
“bruakkkkk
“ Aya terjatuh dan kepalanya berdarah karena terbentur meja ketika
merayap-rayap berusaha mencegah Jio yang
ingin membutakan dirinya.
“Aya
!!!“ serentak Jio, Gilang dan mamanya Aya berteriak kemudian mereka menghampiri
Aya. Jio yang paling dahulu ,meraih Aya dan mendekapnya dalam pangkuannya.
“maafkan
gua Ai” lirih Jio,
“kamu
baik-baik saja nak ?“ mama Aya mengkhawatirkannya,
“Aya
nggak apa-apa kok ma, mama nggak usah khawatir. Jio tolong jangan lakuin hal
itu, masa depan lu masih panjang elu nggak boleh ngelakuin hal bodoh itu”
“maafin
gua Ai, gua bingung harus berbuat apa agar lu percaya kalau gua serius cinta
sama elu, gua benar-benar ingin jadiin kamu pendamping hidup gua Ai”
“sebaiknya
elu pikir sekali lagi niat itu Ji, lihatlah , gua nggak bisa berbuat apa-apa
lagi gua cuma akan ngerepotin lu aja Jio”
“nggak
Ai, elu tetep Aya yang dulu, gue nggak perduli tentang kondisi fisik lu saat
ini, gua tetep cinta sama elu Ai”
Suasana
hening sesaat, mamanya Aya tidak henti-hentinya meneteskan airmata dan Gilang
berusaha menenangkannya.Mata Jio memerah dan sesekali meneteskan airmata sambil
memegang erat tangan pujaan hatinya itu.
“Aya,
seandainya kamu bisa melihat keseriusan
nak Jio mama yakin kamu tidak akan bisa menolaknya lagi, nak Jio tidak
main-main Aya” mamanya Aya angkat bicara dan membujuk anaknya yang bersikeras
menolak Jio dan terus menerus merendahkan dirinya.
“tapi
Aya takut ma, takut kalau tidak bisa membahagiakan Jio, takut kalau Jio
menyesali pilihannya itu, takut kalau keluarga Jio tidak bisa menerima gadis
buta sepertiku karena aku hanya akan menyusahkan mereka saja ma”
“apakah
pintu hati lu benar-benar udah tertutup buat gua Ai, apakah nggak ada sedikit aja
harapan buat gua bisa hidup dengan lu?”
“nggak
Jio, elu salah, gua cinta banget sama elu dan gua ngga akan bisa menutup pintu
hati buat lu”
“lalu
kenapa lu terus nolak gua Ai ?”
“gua
takut Jio, gua takut ….” Jawab Aya lirih dan hatinya melunak dengan kata-kata
Jio.
“nggak
akan ada yang bisa menghalangi cinta kita Ai, lu nggak usah khawatir dengan
keluarga gua, mereka nggak sejahat yang ada difikiran lu. gua janji gua nggak
akan ninggalinn lu dalam keadaan bagaimanapun, gua akan tetap ada disamping lu ,
jadi penunjuk jalan di kehidupan lu dan itu adalah harapan gua, elu nggak akan
merepotkan gua karena itu memang keinginan gua Ai. gua nggak akan memperoleh
kebahagiaan kalo nggak bisa hidup sama elu, karena kebahagiaan itu ada di diri
lu Ai. Tolong bantu gua jemput kabahagiaan itu, elu mau kan ?”
“Jio….!!!”
Aya tidak menjawab hanya memanggil nama Jio lirih kemudian menjatuhkan diri
kedalam pelukan laki-laki tercintanya itu dengan isak tangis.
Sekian………….
Malang, 19 Februari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar