http://www.totallyfreecursors.com/details.cfm/id/4310/Banana_Santa.htm

Translate

Kamis, 21 Februari 2013

cerpen Dunia Remaja


Di Ujung Penantian

“Berapa kali kuharus katakan cinta….
Berapa lama kuharus me….”
“Jio-Jio, kalo lu suka ungkapin donk, jangan di pendam mulu. Lagian lu mau nunggu apa lagi, nunggu si Aya di ambil orang lain?”.
Nyanyian Jio terpotong gara-gara kedatangan sahabat dekatnya itu.Jio dan Gilang adalah sahabat karib sejak di SMP dulu.Jadi bukan hal yang aneh lagi kalau Gilang tahu semua tentang Jio. Tentang perasaan Jio yang diam-diam menyukai Aya,  gadis cantik di sekolahnya yang tidak lain lagi adalah teman dekat mereka berdua.
“ah,, elu Gilang, gangguin gua konser aja”. jawab Jio sebel.
“lha elu sih nyanyi kok sambil melamun, ntar kalau kesambet baru tau rasa” Gilang membela diri.
“mau gimana lagi Lang, gua juga bingung gimana cara yang paling tepat dan yang paling romantic buat nembak Aya? Sebenarnya gua sudah nggak sabar lagi pengen ngebuktiin ke Aya kalo gua cinta sama dia”.
“halah…. Masalah gitu aja di pikirin.Tenang aja Ji, serahkan semuanya sama gua, Gilang Agus Setiawan”.
“Sombong banget lu, awas kalo nggak berhasil”
“udah lah Ji, don’t worry be happy ok”
Mereka sedang asyik menyusun rencana, tiba-tiba Jio terkejut ketika ada seseorang yang memukul bahunya dari belakang.
“Aya!!!”.Jio terkejut sambil bengong menatap gadis yang berdiri di belakangnya.
“Ada apa sih, kayaknya sibuk banget sampai-sampai nggak ada yang nyapa gua?”
“Gak ada apa-apa kok Ai, kita berdua cuma…”
“Gini lho Ai,” Gilang memotong kata-kata Jio dan mencoba menjelaskan pada Aya agar dia tidak penasaran. “kita berdua mau ngajak elu makan bareng ntar malam. Tapi kayaknya nggak seru kalau Cuma bertiga, gimana kalo lu ngajak satu temen lagi biar rame gitu lho Ai?”.
“oooh, gitu ya . tapitunggu dulu dalam rangka apa nih kalian mau ngajak makan bareng?”.
“Kemarin team basketnya Jio menang melawan SMA musuh bebuyutan kita, ya istilahnya syukuran gitu lho Ai”
“Wah,, selamat ya Jio, gua ikut seneng dengernya”
“Iiiiya, terimakaasih Aya” Jawab Jio grogi.
“Jadi gimana Ai, bisa kan ntar malem?”.Gilang memperjelas.
“Berrres,, tapi dimana?”
“Dirumah makan Yamada, pukul 7”
“Ok, gua pasti dateng”Jawab Aya yakin.
“Jangan lupa bawa teman ya Ai, kalau bisa yang cewek biar jadi pasangan gua, heheh”
“Iya iya jangan khawatir. Gua masuk kelas dulu ya, sampai ketemu ntar malem”
“ok!!” Jawab Jio dan Gilang bersamaan.
*     *        *

Pulang sekolah Jio dan Gilang langsung menuju ke restoran Yamada.Mereka membooking dua meja dan menghiasi tempat itu dengan aneka bunga dan lilin-lilin yang membentuk tanda cinta.Dengan sekejap mereka telah merubah tempat yang sederhana itu menjaditempat yang sangat indah dan romantis.Di rumah, Jio belajar merangkai kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya pada Aya. Sambil memilih-milih pakaian, dia mondar-mandir di depan cerminnya.
Tepat pukul tuju Jio menjemput Gilang penuh semangat dan hati berbunga-bunga.Sesampainya di restoran Jio dan Gilang merapikan tempat yang sudah mereka pesan siang tadi, lilin-lilin di nyalakan, tapi hati Jio mulai diliputi kebimbangan dan resah karena sudah jam tuju lebih Aya belum datang juga. Ia berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Aya tapi hasilnya nihil, tidak ada yang mengangkat telfon itu. Malam semakin larut, bunga-bunga yang dihias Jio dan Gilang berserakan tertiup angin, cahaya lilin pun semakin meredup, tapi gadis yang dinantikannya tidak juga muncul. Hati Jio berkecamuk merasa dikecewakan oleh Aya, dalam hati Jio berkata “tega sekali lu Ai, lupakan janji yang lu buat sendiri, gua benar-benar kecewa sama lu Aya”.
“Gua mau pulang” Ucap Jio memecahkan keheningan malam itu.
“Lu nggak mau nunggu Aya sebentar lagi?” Cegah Gilang.
“nggak Lang, Aya nggak bakalan dateng. Gua bukan orang yang penting baginya, yang bisa mendapatkan posisi penting di hatinya.Bahkan untuk menyita waktunya sedikit saja untuk makan malam dengan gua dia gak bisa”.
“Mungkin Aya masih dijalan Ji, macet atau apalah”
“Kalau memang seperti itu kenapa dia nggak kasih kabar, ditelfon aja nggak di angkat”
“mmm,,,, mungkin dia nggak denger kalau ada telfon dari lu Ji, maklum di jalan kan rame, bising. Di tunggu dulu lah sebentar Ji”
“sudahlah Gua capek, mau pulang dulu, lu masih tetep mau disini?”
Jio melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Gilang. “Tunggu Ji, gua ikut pulang aja”. Teriak Gilang sambil mengejar langkah Jio yang lesu dan lunglai.
*               *                 *
Hari-hari Jio kelam dan kelabu, dia seolah-olah kehilangan semangat hidupnya lagi.Tiga hari setelah batalnya rencana makan malam itu, Jio enggan keluar dari rumah, bahkan dia tidak pernah masuk sekolah ponselnya pun di matikan.Gilang merasa sangat bersalah melihat keadaan sahabatnya yang seperti itu.
Hari berganti hari, sudah satu miggu Jio tidak masuk sekolah dan yang paling membuat Gilang bingung adalah Aya tidak pernah menampakkan wajahnya lagi sejak kejadian malam itu.Gilang berkeliling mencari-cari gadis itu tapi tidak juga berhasil. Ketika Gilang berteduh ditaman karena capek memutari sekolahan untuk mencari Aya, ada gadis tinggi bermata sipit yang tidak lain adalah teman sekelas Aya. Alangkah terkejutnya Gilang ketika mendengar dari gadis itu ternyata Aya tidak pernah masuk sekolah sejak kejadian malam itu.
Gilang berusaha mencari informasi mengapa Aya menghilang dari sekolah, tapi ia merasa kelelahan karena tidak ada yang membantunya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi menemui Jio dan menceritakan yang terjadi pada Aya.
“permisi tante, Jio nya ada?” sapa Gilang pada wanita yang membukakan pintu, yang tidak lain lagi adalah ibunya Jio.
“iya ada, tapi kalau boleh tante tau kamu siapa?” Tanya wanita itu ramah.
“Saya Gilang temannya Jio satu kelas, sudah tiga hari  ini Jio tidak masuk sekolah, apa Jio sedang sakit atau …”
“Jio sehat-sehat saja, tante juga bingung melihat kondisi Jio, beberapa hari ini dia nggak mau keluar rumah, nggak mau nerima telfon, makan pun kalau nggak tante yang maksa dia nggak akan mau. Berkali-kali tante berusaha menanyakan masalah apa yang dihadapinya, tapi dia tetap tidak mau menjawab dan selalu berpura-pura menampakkan wajah cerianya dihadapan saya”
“Apa saya boleh menemuinya tante, mungkin saya bisa sedikit menghibur Jio atau mencoba mencarikan solusi buat dia?”
“Tentu nak, tante malah senang kalau ada teman Jio yang mau menghiburnya. Silahkan masuk, lurus saja itu kamar Jio, tante buatkan minuman dulu”
“Nggak usah repot-repot tante”
“Tante nggak repot kok, hanya minuman saja, sudah temui Jio sana, biar bisa tenang pikirannya”.
Gilang melangkah kekamar Jio dengan gusar dan bimbang, takut kalau Jio tidak mau bertatap muka dengannya. Tapi ia segera menghilangkan pikiran negative yang ada di benaknya itu.
“tok-tok-tok,,,” Gilang mengetuk pintu kamar Jio dengan ragu.
“masuk aja ma, nggak di kunci kok” sahut Jio dari dalam kamar, tanpa menyadari bahwa yang datang adalah sahabat dekatnya. Lama Gilang berdiri memperhatikan shabatnya yang semakin kurus itu, kemudian Jio membalikkan badannya dan ia sangat terkejut karena kedatangan Gilang.
“Gilang, !!”Sapa Jio sambil terbelalak kedua matanya.
“eh, iya Ji, lu tambah kurus aja, nggak pernah makan ya ?” Gilang membalas sapaan Jio.
“ah, lu bisa aja Lang. gimana kabar lu ?”
“gua, seperti yang lu liat, tetap segar bugar. Nggak kayak lu, belum berusaha udah nyerah”.
“he,,, “ Jio tersenyum tanpa memberi komentar.
“tapi sekarang udah mendingan kan, kalau gua ajak bahas masalah Aya masih kuat kan? Hehe,,,” Gilang menggoda Jio.
“emang lu pikir gua depresi gitu, sampe nggak mau bahas masalah Aya?”
“ya kali aja Ji”.
“ada apa dengan Aya, kenapa tiba-tiba lu mau bahas masalah Aya?”
“beberapa hari  ini Aya nggak masuk sekolah Ji, gua dah coba datang kerumahnya tapi hasilnya nihil, rumah Aya sepi nggak ada orangnya sama sekali. Gua juga udah berkali-kali Tanya ke teman-teman di kelas Aya tapi nggak  ada yang tau kemana dia pergi. Gua jadi bingung Ji makanya gua datang kesini, gua kira elu tau kemana Aya pergi”.
“apa lu udah coba tanya sama Nina, dia kan temen deketnya, mungkin dia tau keberadaan Aya?”
“belum Ji, tadi pagi Nina nggak ada di kelasnya”
“kalau begitu gua ganti pakaian dulu , kita cari Aya sekarang juga”
“apa,,,!! lu gila apa mau cari kemana?”
“kemana aja, udah lah nggak usah banyak komen ayo berangkat”.
Jio melangkah tanpa memperdulikan keluhan Gilang.
“loh mau kemana, ini tante buatkan minuman, diminum dulu ya” tanya ibu Jio sambil bengong karena merasa aneh melihat Jio dan Gilang yang terburu-buru mau pergi.
“kita berdua buru-buru ma, ntar aja minumnya, ntar Gilang mampir kesini lagi kok. Iya kan Lang?”Jio meyakinkan ibunya, Gilang hanya mengangguk menanggapi ucapan Jio.
“ya sudah hati-hati di jalan”
“ok mam, kita berangkat dulu ya”.
Berkali-kali Jio mencoba menghubungi ponsel Aya tapi tidak ada jawaban.Kemudian mereka menuju rumah Aya tapi rumahnya tetap sepi seperti tidak berpenghuni.Jio mencoba mengetuk pintu rumah itu, setelah ketukan yang ketiga Jio dan Gilang kaget bukan main ketika ada perempuan separuh baya yang membukakan pintu itu. Perempuan itu tidak lain lagi adalah ibunya Aya. Mata perempuan itu basah, mukanya lesu seperti sedang ditimpa musibah yang sangat besar. Dengan terbata-bata Jio memberanikan diri menyapa perempuan itu ,
“ssssiang tante,  Aya nya ada ?”
“maaf kalian siapa ya ?”
“oh iya, saya Jio dan ini Gilang teman saya,  kami kakak kelasnya Aya, biasanya kan kami sering ngobrol bareng dia tapi beberapa hari ini kami tidak melihatnya di sekolah, apa Aya sedang nggak enak badan tante ?” Jio menjelaskan.
“mmmm,,,, Aya…”
“tenang saja tante kami orang baik-baik kok, kami Cuma ingin memastikan apakah Aya baik-baik saja atau gimana. Tante nggak usah khawatir, kita nggak akan macem-macem kok tan” Gilang meyakinkan ibunya Aya.
“sebenarnya Aya …”
“siapa ma, kok gak disuruh masuk ?” Tiba-tiba suara yang sudah tidak asing lagi di telinga Jio itu terdengar dari ruang tamu, seorang gadis yang meluluhkan hati Jio, memberi semangat dalam hidup Jio dan juga mematahkannya.Gadis itu berjalan pelan-pelan sambil memegang tongkat kecil ditangannya. Wajahnya kusut , matanya sembab seperti habis menangis.
“Aya…..” Jio terperanjat melihat gadis yang disayanginya menderita seperti itu.Tanpa pikir panjang lagi Jio langsung lari dan memeluk gadis itu.
“Jio…..” ucap Aya lirih, tubuhnya yang mungil bergetar dalam dekapan Jio, matanya meneteskan air mata kemudian Jio melepaskan pelukannya dan memandangi gadis pujaan hatinya itu lekat-lekat.
“mengapa lu  jahat banget sama gua Ai, mengapa lu tega ngelakuin itu ke gua?” Jio berkata sambil memegang tangan Aya.
“maaf Ji, gua….” Jio menutup mulut Aya dengan jari telunjuknya dan menghentikan kata-kata Aya.
“ssst,,, jangan diteruskan , udah cukup Ai mengapa lu bisa sejahat ini sama gua, ngebiarn gua nunggu tanpa ada kabar kejelasan dari elu. elu bener-bener keterlaluan Ai, bahkan lu nggak kasih tau gua sedikit aja derita yang lu hadapi kenapa lu tega  sama gua Ai ?”.
“maafin gua Ji, malam itu gua dan Maya menuju tempat yang udah kita janjikan, gua seneng banget Ji, gue jalan tergesa-gesa tanpa memperdulikan seruan dari Maya, ketika menoleh kebelakang mata gua terasa silau karena cahaya mobil yang melaju sangat kencang. Dan ketika gua sadar, semua menjadi gelap gua bingung nggak tau ada dimana dan setelah mendengar penjelasan dari mama gua baru sadar kalau kecelakaan itu membuat gua jadi seperti ini, gua buta Jio, gua nggak bisa melihat lu lagi, gua….”
“gua nggak marah sama elu Ai, gua nggak  akan bisa marah sama elu” lagi-lagi pelukan Jio mampu membungkam mulut Aya.
“elu tau nggak Ji, malam itu gua seneng banget mau makan malam sama elu, hati gua berbunga-bunga seakan ada kehidupan baru yang mau menjemput gua, tapi setelah gua buka mata dan nggak lagi bisa lihat indahnya cahaya di dunia ini semua itu harapan pupus gua bukan Aya yang dulu lagi, gua nggak bisa seperti dulu lagi Ji”
“kalau aja gua bisa memutar kembali waktu, gua bersedia menggantikan posisimu Ai, biar gua yang nanggung derita ini”
“tidak Jio, ini memang udah takdir gua jadi orang buta selamanya siapapun nggak akan bisa merubahnya”
“Aya, boleh gua minta sesuatu sama elu ?”
“apa Ji ? tentu saja boleh selama gua bisa memberikannya kenapa enggak”
“tolong izinin  gua menjadi kawan hidup lu Ai, gua pengen jadi penerang di kehidupan lu, kalau memang gua nggak bisa menggantikan posisi lu biarkanlah sedikit aja gua ikut ngerasain penderitaan lu, bolehkan Ai ?”
“nggak Ji, gua nggak pantas buat lu, elu orang yang hebat, pinter masih banyak gadis yang pantas dan mau sama elu. Lagi pula apa yang bisa diharapkan dari gadis cacat seperti gua, gua nggak bisa apa-apa lagi Jio, gua ….”
“elu nggak boleh kaya gitu Ai, gua cinta sama elu bukan karena elu cantik, kaya, atau apalah gua tulus cinta sama elu Ai”
“mungkin itu Cuma perasaan simpati aja Ji, elu ngerasa kasihan karena lihat kondisi gua saat ini”
“baiklah, kalo gitu gua akan mencongkel kedua mata gua ini biar elu lega dan nggak akan ada lagi perbedaan diantara kita” Jio berkata dengan keseriusannya kemudian dia melepaskan tangan Aya dan melangkah menjauhi Aya.
“Jio apa yang elu lakuin Ji, Jio jangan lakukan hal bodoh itu kumohon, mama bantu Aya mencegah Jio ma tolong, Jio ….”
“bruakkkkk “ Aya terjatuh dan kepalanya berdarah karena terbentur meja ketika merayap-rayap  berusaha mencegah Jio yang ingin membutakan dirinya.
“Aya !!!“ serentak Jio, Gilang dan mamanya Aya berteriak kemudian mereka menghampiri Aya. Jio yang paling dahulu ,meraih Aya dan mendekapnya dalam pangkuannya.
“maafkan gua Ai” lirih Jio,
“kamu baik-baik saja nak ?“ mama Aya mengkhawatirkannya,
“Aya nggak apa-apa kok ma, mama nggak usah khawatir. Jio tolong jangan lakuin hal itu, masa depan lu masih panjang elu nggak boleh ngelakuin hal bodoh itu”
“maafin gua Ai, gua bingung harus berbuat apa agar lu percaya kalau gua serius cinta sama elu, gua benar-benar ingin jadiin kamu pendamping hidup gua Ai”
“sebaiknya elu pikir sekali lagi niat itu Ji, lihatlah , gua nggak bisa berbuat apa-apa lagi gua cuma akan ngerepotin lu aja Jio”
“nggak Ai, elu tetep Aya yang dulu, gue nggak perduli tentang kondisi fisik lu saat ini, gua tetep cinta sama elu Ai”
Suasana hening sesaat, mamanya Aya tidak henti-hentinya meneteskan airmata dan Gilang berusaha menenangkannya.Mata Jio memerah dan sesekali meneteskan airmata sambil memegang erat tangan pujaan hatinya itu.
“Aya, seandainya  kamu bisa melihat keseriusan nak Jio mama yakin kamu tidak akan bisa menolaknya lagi, nak Jio tidak main-main Aya” mamanya Aya angkat bicara dan membujuk anaknya yang bersikeras menolak Jio dan terus menerus merendahkan dirinya.
“tapi Aya takut ma, takut kalau tidak bisa membahagiakan Jio, takut kalau Jio menyesali pilihannya itu, takut kalau keluarga Jio tidak bisa menerima gadis buta sepertiku karena aku hanya akan menyusahkan mereka saja ma”
“apakah pintu hati lu benar-benar udah tertutup buat gua Ai, apakah nggak ada sedikit aja harapan buat gua bisa hidup dengan lu?”
“nggak Jio, elu salah, gua cinta banget sama elu dan gua ngga akan bisa menutup pintu hati buat lu”
“lalu kenapa lu terus nolak gua Ai ?”
“gua takut Jio, gua takut ….” Jawab Aya lirih dan hatinya melunak dengan kata-kata Jio.
“nggak akan ada yang bisa menghalangi cinta kita Ai, lu nggak usah khawatir dengan keluarga gua, mereka nggak sejahat yang ada difikiran lu. gua janji gua nggak akan ninggalinn lu dalam keadaan bagaimanapun, gua akan tetap ada disamping lu , jadi penunjuk jalan di kehidupan lu dan itu adalah harapan gua, elu nggak akan merepotkan gua karena itu memang keinginan gua Ai. gua nggak akan memperoleh kebahagiaan kalo nggak bisa hidup sama elu, karena kebahagiaan itu ada di diri lu Ai. Tolong bantu gua jemput kabahagiaan itu, elu mau kan ?”
“Jio….!!!” Aya tidak menjawab hanya memanggil nama Jio lirih kemudian menjatuhkan diri kedalam pelukan laki-laki tercintanya itu dengan isak tangis.
Sekian………….

Malang, 19 Februari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar