http://www.totallyfreecursors.com/details.cfm/id/4310/Banana_Santa.htm

Translate

Minggu, 06 Mei 2018

Pahit Manis Cinta Pertama

PAHIT MANIS CINTA PERTAMA 
Prolog 

Deru deram mesin kendaraan memekakkan telinga bagi setiap pengguna jalan raya sore ini. Klakson mobil menjerit-jerit pertanda suasana hati yang tengah kesal karena berada di tengah kemacetan, sementara cuaca tengah mendung, gelap, disertai angin yang tidak karuan, pertanda akan segera turun hujan lebat berangin.  Namun di tengah hiruk pikuk suasana itu, seorang gadis manis mengendarai motor dengan santainya, seoalah ia memang tengah menantikan turunnya hujan & membiarkan dirinya basah kuyup, karena dengan cara itu ia bisa mengurangi sedikit penderitaan hidupnya.

Sampai di pertigaan taman kota, ia tersadar & mendadak menarik rem untuk putar balik ke sebuah toko peralatan musik di tepi jalan raya. Toko sederhana yang berukuran 6X4 meter persegi itu merupakan toko klasik dengan desain tradisional dan unik. Naura melangkahkan kaki perlahan sambil menelisik dimana penjaga tokonya.

"Selamat sore cantik, ada yang bisa saya bantu?" Naura terkejut & mengelus dadanya karena kaget mendapati seorang pemmuda yang usianya diperkirakan 3 tahun lebih tua darinya muncul dengan tiba-tiba di balik etalase toko dengan topeng menyeramkan.

"Ini toko alat musik mas?" Naura ingin memastikan
"Iyalah cantik, kan sudah jelas pajangannya alat musik semua" jawab penjaga toko itu dengan nyengir.
"Kirain toko hadiah, pakek surprise segala" naura kesal
"Hehehe... biar gak tegang lah cantik"
"Untung saya gak sampek terserang jantung mas"
"Hehehe... peace!!!" Penjaga toko yang berkulit sawo matang tersebut menyunggingkan senyum termanisnya, sambil mengangkat jari tengah & telunjuknya sebagai isyarat damai.
"Jadi, nona cantik mau beli apa?"

"Naura mas, bukan cantik"
"Oooohh... oke, nona Naura yang cantik, ada yang bisa saya bantu?"
"Ada senar gitar yang nomor 1 gak mas?"
"Ada, tapi gak bisa ngecer belinya. Harus satu set. Gimana?"
"Waaah... harus satu set ya?"
"Iya cantik, gimana?"
"Boleh deh mas, satu set ya"
"Oke cantik, ada lagi yang dibutuhkan?"
"Sudah mas,itu doang. Berapa mas?"
"40 ribu cantik"
Wajah Naura kesal, protes karena penjaga toko itu masih saja memanggilnya dengan sebutan "cantik". Setelah mendapat apa yang dia butuhkan Naura langsung permisi & membalikkan badan hendak keluar toko.
"Bruuukk!!"
Naura nyengir kesakitan karena tertabrak sosok pemuda tinggi kurus, berwajah tirus, dengan tatapan mata yang bersinar bak mentari pagi yang senantiasa memberi kehangatan. Naura terperanjat dengan sosok tersebut, sosok yang selama ini ia rindukan, sosok yang selama ini ia nantikan, sosok yang selama ini bernaung di tahta sanubarinya.
Naura diam membisu, lidahnya kelu tak sanggup mengutarakan perasaannya, hanya senyum hambar yang ia suguhkan.

"Eh.. maaf ya!" Suara itu masih sama seperti suara yang di kagumi Naura
"Eh.. saya yang salah mas, maaf!" Naura menjawab dengan suara canggung
"Kayak pernah ketemu, wajahnya gak asing"
"Mmmm... dulu kita satu kampus mas"
'Suasana canggung macam apa ini?' Batin penjaga toko itu mulai protes dengan kejadian di hadapannya.
"Oh ya??? Maaf-maaf ingatan saya agak bermasalah"
"Iya mas, gak papa kok"
"Boleh saya mengawali perkenalan kita disini?" Ekspresi itu yang selalu membuat Naura mati rasa, hingga tak sanggup menolaknya.
"Tentu. Mas Yudha kan!" Naura berusaha tegar
"Loh...tau nama saya?" Pemuda itu terkejut
"......" Naura tersenyum canggung
"Tapi gak fair kalau yang kenal hanya sepihak gini"
Naura mulai salah tingkah.
"Kenalin, nama saya Yudha" Yudha memperkenalkan dirinya secara resmi dengan mengulurkan tangannya.

Deg!!! Hati Naura berdegup kencang
"Naura" Naura menjawab dengan perasaan campur aduk antar bahagia dan gemetaran. Bagaimana tidak, pemuda yang selama ini ia dambakan tengah berdiri, tersenyum manis dihadapannya bahkan menjabat erat tangannya. Naura terhanyut dengan perasaannya, sesaat ia tersadar dan segera menarik tangannya kemudian pamit undur diri.

"Naura!!!" Teriak Yudha ingin berusaha menghentikan Naura yang hendak melaju dengan motornya. "Boleh minta nomor telepon kamu?" Yudha menghampiri Naura yang duduk diatas motornya.
"Sure!! Wait a second!" Naura mengeluarkan ponselnya, dan mencari-cari nama 'Yudha' didaftar kontaknya.
"Beep... beep... beep" ponsel Yudha berdering
"Masih aktif ternyata, itu nomor saya mas. Silahkan di save, saya permiisi ya keburu hujan" naura pergi meninggalkan Yudha dengan tanda tanya besar di benak Yudha.
*******                                ********

To be continued...