http://www.totallyfreecursors.com/details.cfm/id/4310/Banana_Santa.htm

Translate

Kamis, 21 Februari 2013

cerpen Dunia Remaja


Di Ujung Penantian

“Berapa kali kuharus katakan cinta….
Berapa lama kuharus me….”
“Jio-Jio, kalo lu suka ungkapin donk, jangan di pendam mulu. Lagian lu mau nunggu apa lagi, nunggu si Aya di ambil orang lain?”.
Nyanyian Jio terpotong gara-gara kedatangan sahabat dekatnya itu.Jio dan Gilang adalah sahabat karib sejak di SMP dulu.Jadi bukan hal yang aneh lagi kalau Gilang tahu semua tentang Jio. Tentang perasaan Jio yang diam-diam menyukai Aya,  gadis cantik di sekolahnya yang tidak lain lagi adalah teman dekat mereka berdua.
“ah,, elu Gilang, gangguin gua konser aja”. jawab Jio sebel.
“lha elu sih nyanyi kok sambil melamun, ntar kalau kesambet baru tau rasa” Gilang membela diri.
“mau gimana lagi Lang, gua juga bingung gimana cara yang paling tepat dan yang paling romantic buat nembak Aya? Sebenarnya gua sudah nggak sabar lagi pengen ngebuktiin ke Aya kalo gua cinta sama dia”.
“halah…. Masalah gitu aja di pikirin.Tenang aja Ji, serahkan semuanya sama gua, Gilang Agus Setiawan”.
“Sombong banget lu, awas kalo nggak berhasil”
“udah lah Ji, don’t worry be happy ok”
Mereka sedang asyik menyusun rencana, tiba-tiba Jio terkejut ketika ada seseorang yang memukul bahunya dari belakang.
“Aya!!!”.Jio terkejut sambil bengong menatap gadis yang berdiri di belakangnya.
“Ada apa sih, kayaknya sibuk banget sampai-sampai nggak ada yang nyapa gua?”
“Gak ada apa-apa kok Ai, kita berdua cuma…”
“Gini lho Ai,” Gilang memotong kata-kata Jio dan mencoba menjelaskan pada Aya agar dia tidak penasaran. “kita berdua mau ngajak elu makan bareng ntar malam. Tapi kayaknya nggak seru kalau Cuma bertiga, gimana kalo lu ngajak satu temen lagi biar rame gitu lho Ai?”.
“oooh, gitu ya . tapitunggu dulu dalam rangka apa nih kalian mau ngajak makan bareng?”.
“Kemarin team basketnya Jio menang melawan SMA musuh bebuyutan kita, ya istilahnya syukuran gitu lho Ai”
“Wah,, selamat ya Jio, gua ikut seneng dengernya”
“Iiiiya, terimakaasih Aya” Jawab Jio grogi.
“Jadi gimana Ai, bisa kan ntar malem?”.Gilang memperjelas.
“Berrres,, tapi dimana?”
“Dirumah makan Yamada, pukul 7”
“Ok, gua pasti dateng”Jawab Aya yakin.
“Jangan lupa bawa teman ya Ai, kalau bisa yang cewek biar jadi pasangan gua, heheh”
“Iya iya jangan khawatir. Gua masuk kelas dulu ya, sampai ketemu ntar malem”
“ok!!” Jawab Jio dan Gilang bersamaan.
*     *        *

Pulang sekolah Jio dan Gilang langsung menuju ke restoran Yamada.Mereka membooking dua meja dan menghiasi tempat itu dengan aneka bunga dan lilin-lilin yang membentuk tanda cinta.Dengan sekejap mereka telah merubah tempat yang sederhana itu menjaditempat yang sangat indah dan romantis.Di rumah, Jio belajar merangkai kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya pada Aya. Sambil memilih-milih pakaian, dia mondar-mandir di depan cerminnya.
Tepat pukul tuju Jio menjemput Gilang penuh semangat dan hati berbunga-bunga.Sesampainya di restoran Jio dan Gilang merapikan tempat yang sudah mereka pesan siang tadi, lilin-lilin di nyalakan, tapi hati Jio mulai diliputi kebimbangan dan resah karena sudah jam tuju lebih Aya belum datang juga. Ia berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Aya tapi hasilnya nihil, tidak ada yang mengangkat telfon itu. Malam semakin larut, bunga-bunga yang dihias Jio dan Gilang berserakan tertiup angin, cahaya lilin pun semakin meredup, tapi gadis yang dinantikannya tidak juga muncul. Hati Jio berkecamuk merasa dikecewakan oleh Aya, dalam hati Jio berkata “tega sekali lu Ai, lupakan janji yang lu buat sendiri, gua benar-benar kecewa sama lu Aya”.
“Gua mau pulang” Ucap Jio memecahkan keheningan malam itu.
“Lu nggak mau nunggu Aya sebentar lagi?” Cegah Gilang.
“nggak Lang, Aya nggak bakalan dateng. Gua bukan orang yang penting baginya, yang bisa mendapatkan posisi penting di hatinya.Bahkan untuk menyita waktunya sedikit saja untuk makan malam dengan gua dia gak bisa”.
“Mungkin Aya masih dijalan Ji, macet atau apalah”
“Kalau memang seperti itu kenapa dia nggak kasih kabar, ditelfon aja nggak di angkat”
“mmm,,,, mungkin dia nggak denger kalau ada telfon dari lu Ji, maklum di jalan kan rame, bising. Di tunggu dulu lah sebentar Ji”
“sudahlah Gua capek, mau pulang dulu, lu masih tetep mau disini?”
Jio melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Gilang. “Tunggu Ji, gua ikut pulang aja”. Teriak Gilang sambil mengejar langkah Jio yang lesu dan lunglai.
*               *                 *
Hari-hari Jio kelam dan kelabu, dia seolah-olah kehilangan semangat hidupnya lagi.Tiga hari setelah batalnya rencana makan malam itu, Jio enggan keluar dari rumah, bahkan dia tidak pernah masuk sekolah ponselnya pun di matikan.Gilang merasa sangat bersalah melihat keadaan sahabatnya yang seperti itu.
Hari berganti hari, sudah satu miggu Jio tidak masuk sekolah dan yang paling membuat Gilang bingung adalah Aya tidak pernah menampakkan wajahnya lagi sejak kejadian malam itu.Gilang berkeliling mencari-cari gadis itu tapi tidak juga berhasil. Ketika Gilang berteduh ditaman karena capek memutari sekolahan untuk mencari Aya, ada gadis tinggi bermata sipit yang tidak lain adalah teman sekelas Aya. Alangkah terkejutnya Gilang ketika mendengar dari gadis itu ternyata Aya tidak pernah masuk sekolah sejak kejadian malam itu.
Gilang berusaha mencari informasi mengapa Aya menghilang dari sekolah, tapi ia merasa kelelahan karena tidak ada yang membantunya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi menemui Jio dan menceritakan yang terjadi pada Aya.
“permisi tante, Jio nya ada?” sapa Gilang pada wanita yang membukakan pintu, yang tidak lain lagi adalah ibunya Jio.
“iya ada, tapi kalau boleh tante tau kamu siapa?” Tanya wanita itu ramah.
“Saya Gilang temannya Jio satu kelas, sudah tiga hari  ini Jio tidak masuk sekolah, apa Jio sedang sakit atau …”
“Jio sehat-sehat saja, tante juga bingung melihat kondisi Jio, beberapa hari ini dia nggak mau keluar rumah, nggak mau nerima telfon, makan pun kalau nggak tante yang maksa dia nggak akan mau. Berkali-kali tante berusaha menanyakan masalah apa yang dihadapinya, tapi dia tetap tidak mau menjawab dan selalu berpura-pura menampakkan wajah cerianya dihadapan saya”
“Apa saya boleh menemuinya tante, mungkin saya bisa sedikit menghibur Jio atau mencoba mencarikan solusi buat dia?”
“Tentu nak, tante malah senang kalau ada teman Jio yang mau menghiburnya. Silahkan masuk, lurus saja itu kamar Jio, tante buatkan minuman dulu”
“Nggak usah repot-repot tante”
“Tante nggak repot kok, hanya minuman saja, sudah temui Jio sana, biar bisa tenang pikirannya”.
Gilang melangkah kekamar Jio dengan gusar dan bimbang, takut kalau Jio tidak mau bertatap muka dengannya. Tapi ia segera menghilangkan pikiran negative yang ada di benaknya itu.
“tok-tok-tok,,,” Gilang mengetuk pintu kamar Jio dengan ragu.
“masuk aja ma, nggak di kunci kok” sahut Jio dari dalam kamar, tanpa menyadari bahwa yang datang adalah sahabat dekatnya. Lama Gilang berdiri memperhatikan shabatnya yang semakin kurus itu, kemudian Jio membalikkan badannya dan ia sangat terkejut karena kedatangan Gilang.
“Gilang, !!”Sapa Jio sambil terbelalak kedua matanya.
“eh, iya Ji, lu tambah kurus aja, nggak pernah makan ya ?” Gilang membalas sapaan Jio.
“ah, lu bisa aja Lang. gimana kabar lu ?”
“gua, seperti yang lu liat, tetap segar bugar. Nggak kayak lu, belum berusaha udah nyerah”.
“he,,, “ Jio tersenyum tanpa memberi komentar.
“tapi sekarang udah mendingan kan, kalau gua ajak bahas masalah Aya masih kuat kan? Hehe,,,” Gilang menggoda Jio.
“emang lu pikir gua depresi gitu, sampe nggak mau bahas masalah Aya?”
“ya kali aja Ji”.
“ada apa dengan Aya, kenapa tiba-tiba lu mau bahas masalah Aya?”
“beberapa hari  ini Aya nggak masuk sekolah Ji, gua dah coba datang kerumahnya tapi hasilnya nihil, rumah Aya sepi nggak ada orangnya sama sekali. Gua juga udah berkali-kali Tanya ke teman-teman di kelas Aya tapi nggak  ada yang tau kemana dia pergi. Gua jadi bingung Ji makanya gua datang kesini, gua kira elu tau kemana Aya pergi”.
“apa lu udah coba tanya sama Nina, dia kan temen deketnya, mungkin dia tau keberadaan Aya?”
“belum Ji, tadi pagi Nina nggak ada di kelasnya”
“kalau begitu gua ganti pakaian dulu , kita cari Aya sekarang juga”
“apa,,,!! lu gila apa mau cari kemana?”
“kemana aja, udah lah nggak usah banyak komen ayo berangkat”.
Jio melangkah tanpa memperdulikan keluhan Gilang.
“loh mau kemana, ini tante buatkan minuman, diminum dulu ya” tanya ibu Jio sambil bengong karena merasa aneh melihat Jio dan Gilang yang terburu-buru mau pergi.
“kita berdua buru-buru ma, ntar aja minumnya, ntar Gilang mampir kesini lagi kok. Iya kan Lang?”Jio meyakinkan ibunya, Gilang hanya mengangguk menanggapi ucapan Jio.
“ya sudah hati-hati di jalan”
“ok mam, kita berangkat dulu ya”.
Berkali-kali Jio mencoba menghubungi ponsel Aya tapi tidak ada jawaban.Kemudian mereka menuju rumah Aya tapi rumahnya tetap sepi seperti tidak berpenghuni.Jio mencoba mengetuk pintu rumah itu, setelah ketukan yang ketiga Jio dan Gilang kaget bukan main ketika ada perempuan separuh baya yang membukakan pintu itu. Perempuan itu tidak lain lagi adalah ibunya Aya. Mata perempuan itu basah, mukanya lesu seperti sedang ditimpa musibah yang sangat besar. Dengan terbata-bata Jio memberanikan diri menyapa perempuan itu ,
“ssssiang tante,  Aya nya ada ?”
“maaf kalian siapa ya ?”
“oh iya, saya Jio dan ini Gilang teman saya,  kami kakak kelasnya Aya, biasanya kan kami sering ngobrol bareng dia tapi beberapa hari ini kami tidak melihatnya di sekolah, apa Aya sedang nggak enak badan tante ?” Jio menjelaskan.
“mmmm,,,, Aya…”
“tenang saja tante kami orang baik-baik kok, kami Cuma ingin memastikan apakah Aya baik-baik saja atau gimana. Tante nggak usah khawatir, kita nggak akan macem-macem kok tan” Gilang meyakinkan ibunya Aya.
“sebenarnya Aya …”
“siapa ma, kok gak disuruh masuk ?” Tiba-tiba suara yang sudah tidak asing lagi di telinga Jio itu terdengar dari ruang tamu, seorang gadis yang meluluhkan hati Jio, memberi semangat dalam hidup Jio dan juga mematahkannya.Gadis itu berjalan pelan-pelan sambil memegang tongkat kecil ditangannya. Wajahnya kusut , matanya sembab seperti habis menangis.
“Aya…..” Jio terperanjat melihat gadis yang disayanginya menderita seperti itu.Tanpa pikir panjang lagi Jio langsung lari dan memeluk gadis itu.
“Jio…..” ucap Aya lirih, tubuhnya yang mungil bergetar dalam dekapan Jio, matanya meneteskan air mata kemudian Jio melepaskan pelukannya dan memandangi gadis pujaan hatinya itu lekat-lekat.
“mengapa lu  jahat banget sama gua Ai, mengapa lu tega ngelakuin itu ke gua?” Jio berkata sambil memegang tangan Aya.
“maaf Ji, gua….” Jio menutup mulut Aya dengan jari telunjuknya dan menghentikan kata-kata Aya.
“ssst,,, jangan diteruskan , udah cukup Ai mengapa lu bisa sejahat ini sama gua, ngebiarn gua nunggu tanpa ada kabar kejelasan dari elu. elu bener-bener keterlaluan Ai, bahkan lu nggak kasih tau gua sedikit aja derita yang lu hadapi kenapa lu tega  sama gua Ai ?”.
“maafin gua Ji, malam itu gua dan Maya menuju tempat yang udah kita janjikan, gua seneng banget Ji, gue jalan tergesa-gesa tanpa memperdulikan seruan dari Maya, ketika menoleh kebelakang mata gua terasa silau karena cahaya mobil yang melaju sangat kencang. Dan ketika gua sadar, semua menjadi gelap gua bingung nggak tau ada dimana dan setelah mendengar penjelasan dari mama gua baru sadar kalau kecelakaan itu membuat gua jadi seperti ini, gua buta Jio, gua nggak bisa melihat lu lagi, gua….”
“gua nggak marah sama elu Ai, gua nggak  akan bisa marah sama elu” lagi-lagi pelukan Jio mampu membungkam mulut Aya.
“elu tau nggak Ji, malam itu gua seneng banget mau makan malam sama elu, hati gua berbunga-bunga seakan ada kehidupan baru yang mau menjemput gua, tapi setelah gua buka mata dan nggak lagi bisa lihat indahnya cahaya di dunia ini semua itu harapan pupus gua bukan Aya yang dulu lagi, gua nggak bisa seperti dulu lagi Ji”
“kalau aja gua bisa memutar kembali waktu, gua bersedia menggantikan posisimu Ai, biar gua yang nanggung derita ini”
“tidak Jio, ini memang udah takdir gua jadi orang buta selamanya siapapun nggak akan bisa merubahnya”
“Aya, boleh gua minta sesuatu sama elu ?”
“apa Ji ? tentu saja boleh selama gua bisa memberikannya kenapa enggak”
“tolong izinin  gua menjadi kawan hidup lu Ai, gua pengen jadi penerang di kehidupan lu, kalau memang gua nggak bisa menggantikan posisi lu biarkanlah sedikit aja gua ikut ngerasain penderitaan lu, bolehkan Ai ?”
“nggak Ji, gua nggak pantas buat lu, elu orang yang hebat, pinter masih banyak gadis yang pantas dan mau sama elu. Lagi pula apa yang bisa diharapkan dari gadis cacat seperti gua, gua nggak bisa apa-apa lagi Jio, gua ….”
“elu nggak boleh kaya gitu Ai, gua cinta sama elu bukan karena elu cantik, kaya, atau apalah gua tulus cinta sama elu Ai”
“mungkin itu Cuma perasaan simpati aja Ji, elu ngerasa kasihan karena lihat kondisi gua saat ini”
“baiklah, kalo gitu gua akan mencongkel kedua mata gua ini biar elu lega dan nggak akan ada lagi perbedaan diantara kita” Jio berkata dengan keseriusannya kemudian dia melepaskan tangan Aya dan melangkah menjauhi Aya.
“Jio apa yang elu lakuin Ji, Jio jangan lakukan hal bodoh itu kumohon, mama bantu Aya mencegah Jio ma tolong, Jio ….”
“bruakkkkk “ Aya terjatuh dan kepalanya berdarah karena terbentur meja ketika merayap-rayap  berusaha mencegah Jio yang ingin membutakan dirinya.
“Aya !!!“ serentak Jio, Gilang dan mamanya Aya berteriak kemudian mereka menghampiri Aya. Jio yang paling dahulu ,meraih Aya dan mendekapnya dalam pangkuannya.
“maafkan gua Ai” lirih Jio,
“kamu baik-baik saja nak ?“ mama Aya mengkhawatirkannya,
“Aya nggak apa-apa kok ma, mama nggak usah khawatir. Jio tolong jangan lakuin hal itu, masa depan lu masih panjang elu nggak boleh ngelakuin hal bodoh itu”
“maafin gua Ai, gua bingung harus berbuat apa agar lu percaya kalau gua serius cinta sama elu, gua benar-benar ingin jadiin kamu pendamping hidup gua Ai”
“sebaiknya elu pikir sekali lagi niat itu Ji, lihatlah , gua nggak bisa berbuat apa-apa lagi gua cuma akan ngerepotin lu aja Jio”
“nggak Ai, elu tetep Aya yang dulu, gue nggak perduli tentang kondisi fisik lu saat ini, gua tetep cinta sama elu Ai”
Suasana hening sesaat, mamanya Aya tidak henti-hentinya meneteskan airmata dan Gilang berusaha menenangkannya.Mata Jio memerah dan sesekali meneteskan airmata sambil memegang erat tangan pujaan hatinya itu.
“Aya, seandainya  kamu bisa melihat keseriusan nak Jio mama yakin kamu tidak akan bisa menolaknya lagi, nak Jio tidak main-main Aya” mamanya Aya angkat bicara dan membujuk anaknya yang bersikeras menolak Jio dan terus menerus merendahkan dirinya.
“tapi Aya takut ma, takut kalau tidak bisa membahagiakan Jio, takut kalau Jio menyesali pilihannya itu, takut kalau keluarga Jio tidak bisa menerima gadis buta sepertiku karena aku hanya akan menyusahkan mereka saja ma”
“apakah pintu hati lu benar-benar udah tertutup buat gua Ai, apakah nggak ada sedikit aja harapan buat gua bisa hidup dengan lu?”
“nggak Jio, elu salah, gua cinta banget sama elu dan gua ngga akan bisa menutup pintu hati buat lu”
“lalu kenapa lu terus nolak gua Ai ?”
“gua takut Jio, gua takut ….” Jawab Aya lirih dan hatinya melunak dengan kata-kata Jio.
“nggak akan ada yang bisa menghalangi cinta kita Ai, lu nggak usah khawatir dengan keluarga gua, mereka nggak sejahat yang ada difikiran lu. gua janji gua nggak akan ninggalinn lu dalam keadaan bagaimanapun, gua akan tetap ada disamping lu , jadi penunjuk jalan di kehidupan lu dan itu adalah harapan gua, elu nggak akan merepotkan gua karena itu memang keinginan gua Ai. gua nggak akan memperoleh kebahagiaan kalo nggak bisa hidup sama elu, karena kebahagiaan itu ada di diri lu Ai. Tolong bantu gua jemput kabahagiaan itu, elu mau kan ?”
“Jio….!!!” Aya tidak menjawab hanya memanggil nama Jio lirih kemudian menjatuhkan diri kedalam pelukan laki-laki tercintanya itu dengan isak tangis.
Sekian………….

Malang, 19 Februari 2013

cerita pendek


UNTITTLE
Pagi ini langit tampak cerah, matahari merona bersama kicauan merdu burung-burung gereja menambah kehangatan suasana pagi yang indah, udara bersih tanpa asap tebal pabrik, tanpa polusi menentramkan semua yang menghuni daerah ini. Pohon yang rindang bergoyang-goyang disapa semilir angin, sejuk dan membekukan. Anak-anak lari berkejar-kejaran dengan semangat penuh keceriaan, seakan derita tidak pernah berani singgah dalam alur hidup mereka.
“Assalamu’alaikum kek Somad” Sapa mereka riang kepada seorang laki-laki paruh baya yang berjalan tegap dihadapan mereka.
“Wa’alaikumsalam cucu-cucuku” Jawabnya dengan senyum melebar.
“Kakek mau kemana, kok membawa tas besar kayak gitu?” Tanya seorang anak dengan rasa ingin tahunya.
“Kakek mau ke Bali, menengok mas Joko, anak kakek yang bekerja di Bali. Sudah berbulan-bulan dia tidak mengirim kabar pada kakek”
“Ooooh…. !!!!” Suara anak-anak serentak.
“Doakan kakek selamat sampai tujuan, nanti kakek bawakan oleh-oleh yang banyak dari Bali”
“Bener kek?”
“Iya, kakek bawakan kue yang enak-enak dan aneka permainan yang bagus-bagus nanti”
“Baiklah kek, mudah-mudahan kakek cepat sampai di Bali dan bisa bertemu dengan mas Joko. Kami mau main dulu kek, kek Somad hati-hati ya”
“Dadaaaa kek Somad….” Suara anak-anak serentak dan penuh dengan harapan.
Kalimat Tasbih tidak pernah terputus dari mulut Somad di sepanjang perjalan menuju ke Bali, melihat pemandangan-pemandangan yang indah di kota di tambah kebahagiaannya karena akan bertemu dengan anak semata wayangnya.
Setelah berjam-jam di dalam bus, akhirnya Somad sampai di alamat Joko yang tertera dalam amplop surat yang dikirim oleh Joko beberapa bulan yang lalu. Somad terperanjat, kagum melihat rumah yang sangat besar dan megah di depannya, hatinya berbisik bangga “Alhamdulillah le…. ternyata ndak percuma bapak menyekolahkanmu dari SD sampai SMK, akhirnya kamu bisa bekerja dan sukses disini bahkan bisa punya rumah sebesar dan sebagus ini” Sambil senyum lebar ia bergumam dalam hati.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan kasar seorang perempuan muda yang membuka pinti rumah tersebut.
 “Eh,,, bapak nggak bisa baca ya? Pengemis dilarang masuk.” Sapa perempuan itu kasar.
“Kok bengong, ayo cepet pergi sana” Ucapnya lagi ketus.
“Ma’af, apa benar ini rumahnya Joko?” Somad mulai memberanikan diri untuk membuka mulutnya.
“Iya benar, pak tua ini siapa, ada urusan apa dengan suamiku?”
“Apa??? Anda istrinya Joko? Joko sudah menikah?”
“Pak tua ini siapa?? Apa hubungannya pernikahan mas Joko dengan mu?”
“Oh iya, saking senangnya saya sampai lupa mengenalkan diri. Nama saya Somad, saya bapaknya Joko. Joko adalah putra wayang saya, apa dia tidak pernah bercerita tentang ini?”
“Hah,,, bapaknya mas Joko??? Aduh pak tua orang gila saja tidak akan percaya mendengar ini, mana mungkin orang secerdas dan setampan mas Joko mempunyai bapak seperti kamu, sudah tua, jelek, kumuh. Nggak mungkin mas Joko mempunyai bapak seorang gembel kaya kamu. Lagian mas bapaknya mas Joko itu sudah meninggal, jangan mimpi deh pak tua. Sudah-sudah pergi sana” Smabil membentak perempuan itu melontarkan kata-kata kasarnya.
Selang beberapa waktu Somad beradu mulut dengan istrnya Joko, tiba-tiba datang mobil sedan berwarana silver di depan mereka sehingga mereka berdua terdiam. Mata Somad menunggu keluarnya pengemudi mobil sedan itu, dan ketika yang di tunggu telah keluar matanya langsung berbinar-binar karena yang keluar adalah putra kesayangannay, Joko.
“ Joko….!!! Ini bapak nak. Bagaimana kabarmu nak, sudah lama kamu tidak mengirim kabar buat bapak, bapak sangat khawatir jadi bapak nekat menyusul kamu dan Alhamdulillah bapak bisa segera menemukan rumahmu dari alamat yang kamu tuliskan di amplop surat yang kamu kirim beberapa bulan yang lalu. Bapak sangat bangga melihat hasil yang kau peroleh, bapak sangat senang nak melihat kesuksesanmu” Sapa Somad sambil menghampiri putranya yang masih bengong disamping pintu mobil seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Joko, mengapa kamu diam saja nak?”
“Sudahlah pak tua suamiku capek baru pulang kerja, jangan ganggu dia. Sebaiknya kamu cepat pergi dari rumah kami sebelum saya menelpon polisi untuk membawamu ke panti jompo.” Istri Joko menarik Joko  dan hendak membawanya masuk kerumah. Joko masih diam tidak merespon sepatah katapun.
“Joko, apa kamu sudah ndak ingat lagi sama bapak nak? Ini bapakmu yang merawatmu, membesarkanmu, menyekolahkanmu, ini bapak nak orang yang menggendongmu waktu kamu kecil, orang yang mengajarimu keberanian, orang yang menenangkanmu disaat kamu menangis, apa kamu sudah lupa nak? Apakah harta ini yang membuat kamu lupa sama bapak? Apakah…”
“Cukup!! Aku tidak kenal orang sepertimu pak tua, aku tidak punya orangtua yang misikn dan jelek sepertimu dan lagi bapakku sudah meninggal. Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku naik pitam”
Kata-kat Joko mengejutkan Somad, dengan sekejap rasa bangga dan bahagianya melihat kemewahan hidup anak kesayangannya itu lenyap menjadi rasa kecewa dan sakit yang bertubi-tubi.
Kemudian Somad meninggalkan anaknya dengan penuh dendam dan kecewa. Dendam pada Bali yang membuat anaknya menjadi berubah seperti itu, dendam pada istri Joko yang membuatnya melupakan keluarga dan tanah kelahirannya.
Ia melangkah lunglai dengan hati hancur, tidak ada raut gembira di wajahnya, tidak ada lagi gairah hidup. Pandangannya kosong, tidak punya arah dan tujuan yang jelas.
*                                      *                                     *
Pagi itu langit enggan menampakkan cahaya matahari lagi, mendung, udara pengap di kota-kota karena asap kendaraan dan pabrik-pabrik yang tidak terkendalikan. Di tepi jalan raya tampak orang berkerumun sambil mengucapkan rasa iba. Seorang laki-laki paruh baya tewas menjadi korban tabrak lari.
Sekian……..

Malang, 21 Februari 2013

Jumat, 08 Februari 2013



pagi yang indah
berselimut kabut yang megah
menutupi seluruh isi dunia
menghalangi pandangan cinta
mentari enggan untuk menari
burungpun tampak sepi
tiada cahaya
tiada suara
Hampa,,,,
itulah gambaran insan yang melara
menggenggam rindu, memendam cinta
membawa luka nan menusuk kalbu
membendung tangis
berbohong dengan senyuman dan pada hati yang teriris.

Malang, 08 februari 2013
(Memory 22 februari 2007, in my secret love)

dalam lelah

ketika diri terasa penat dengan segala hiruk pikuk dunia yang fana ini, aku mulai mencoba untuk membuka lembaran-lembaran baru dalam menghadapi alur hidup mendatang.

aku tarik satu persatu, sedikit demi sedikit dari berbagai masalah yang aku hadapi demi menemukan ketenangan karena telah melepasnya

berharap bisa menemukan titik terang untuk hidup yang lebih damai kedepan-nya

 namun apa yang aku temukan, hanyalah tumpukan-tumpukan derita yang semakin hari semakin bertambah dan semakin tumbuh subur. 

berbagai keluh kesah orang-orang terdekat telah aku temukan solusi dalam menghadapinya, tapi untuk meghadapi masalah pribadi mengapa begitu sulit.

sekian banyak hati yang terluka telah aku sembuhkan dengan berbagai hiburan dan kasih sayang, tapi mengapa menghibur diri-sendiri begitu sulit, menyembuhkan luka hati sendiri begitu rumit??? 

aku hanya bisa berbagi derita ini dengan embun pagi,

yang senantiasa hadir di saat tubuh masih segar, senantiasa menyegarkan dengan tampilannya yang anggun, bersih dan suci.

aku berharap ia akan senantiasa menjadi teman di kehidupan fana q, senantiasa menjadi pendengar keluh kesahku, walaupun aku dan ia sama-sama tidak bisa memecahkan permasalahan hidup yang aku hadapi.

malang, 27 september 2012