UNTITTLE
Pagi
ini langit tampak cerah, matahari merona bersama kicauan merdu burung-burung
gereja menambah kehangatan suasana pagi yang indah, udara bersih tanpa asap
tebal pabrik, tanpa polusi menentramkan semua yang menghuni daerah ini. Pohon
yang rindang bergoyang-goyang disapa semilir angin, sejuk dan membekukan.
Anak-anak lari berkejar-kejaran dengan semangat penuh keceriaan, seakan derita
tidak pernah berani singgah dalam alur hidup mereka.
“Assalamu’alaikum
kek Somad” Sapa mereka riang kepada seorang laki-laki paruh baya yang berjalan
tegap dihadapan mereka.
“Wa’alaikumsalam
cucu-cucuku” Jawabnya dengan senyum melebar.
“Kakek
mau kemana, kok membawa tas besar kayak gitu?” Tanya seorang anak dengan rasa
ingin tahunya.
“Kakek
mau ke Bali, menengok mas Joko, anak kakek yang bekerja di Bali. Sudah
berbulan-bulan dia tidak mengirim kabar pada kakek”
“Ooooh….
!!!!” Suara anak-anak serentak.
“Doakan
kakek selamat sampai tujuan, nanti kakek bawakan oleh-oleh yang banyak dari
Bali”
“Bener
kek?”
“Iya,
kakek bawakan kue yang enak-enak dan aneka permainan yang bagus-bagus nanti”
“Baiklah
kek, mudah-mudahan kakek cepat sampai di Bali dan bisa bertemu dengan mas Joko.
Kami mau main dulu kek, kek Somad hati-hati ya”
“Dadaaaa
kek Somad….” Suara anak-anak serentak dan penuh dengan harapan.
Kalimat
Tasbih tidak pernah terputus dari mulut Somad di sepanjang perjalan menuju ke
Bali, melihat pemandangan-pemandangan yang indah di kota di tambah
kebahagiaannya karena akan bertemu dengan anak semata wayangnya.
Setelah
berjam-jam di dalam bus, akhirnya Somad sampai di alamat Joko yang tertera
dalam amplop surat yang dikirim oleh Joko beberapa bulan yang lalu. Somad
terperanjat, kagum melihat rumah yang sangat besar dan megah di depannya,
hatinya berbisik bangga “Alhamdulillah le…. ternyata ndak percuma bapak
menyekolahkanmu dari SD sampai SMK, akhirnya kamu bisa bekerja dan sukses
disini bahkan bisa punya rumah sebesar dan sebagus ini” Sambil senyum lebar ia
bergumam dalam hati.
Tiba-tiba
ia dikejutkan dengan sapaan kasar seorang perempuan muda yang membuka pinti
rumah tersebut.
“Eh,,, bapak nggak bisa baca ya? Pengemis
dilarang masuk.” Sapa perempuan itu kasar.
“Kok
bengong, ayo cepet pergi sana” Ucapnya lagi ketus.
“Ma’af,
apa benar ini rumahnya Joko?” Somad mulai memberanikan diri untuk membuka
mulutnya.
“Iya
benar, pak tua ini siapa, ada urusan apa dengan suamiku?”
“Apa???
Anda istrinya Joko? Joko sudah menikah?”
“Pak
tua ini siapa?? Apa hubungannya pernikahan mas Joko dengan mu?”
“Oh
iya, saking senangnya saya sampai lupa mengenalkan diri. Nama saya Somad, saya
bapaknya Joko. Joko adalah putra wayang saya, apa dia tidak pernah bercerita
tentang ini?”
“Hah,,,
bapaknya mas Joko??? Aduh pak tua orang gila saja tidak akan percaya mendengar
ini, mana mungkin orang secerdas dan setampan mas Joko mempunyai bapak seperti
kamu, sudah tua, jelek, kumuh. Nggak mungkin mas Joko mempunyai bapak seorang
gembel kaya kamu. Lagian mas bapaknya mas Joko itu sudah meninggal, jangan
mimpi deh pak tua. Sudah-sudah pergi sana” Smabil membentak perempuan itu
melontarkan kata-kata kasarnya.
Selang
beberapa waktu Somad beradu mulut dengan istrnya Joko, tiba-tiba datang mobil
sedan berwarana silver di depan mereka sehingga mereka berdua terdiam. Mata
Somad menunggu keluarnya pengemudi mobil sedan itu, dan ketika yang di tunggu
telah keluar matanya langsung berbinar-binar karena yang keluar adalah putra
kesayangannay, Joko.
“
Joko….!!! Ini bapak nak. Bagaimana kabarmu nak, sudah lama kamu tidak mengirim
kabar buat bapak, bapak sangat khawatir jadi bapak nekat menyusul kamu dan
Alhamdulillah bapak bisa segera menemukan rumahmu dari alamat yang kamu
tuliskan di amplop surat yang kamu kirim beberapa bulan yang lalu. Bapak sangat
bangga melihat hasil yang kau peroleh, bapak sangat senang nak melihat kesuksesanmu”
Sapa Somad sambil menghampiri putranya yang masih bengong disamping pintu mobil
seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Joko,
mengapa kamu diam saja nak?”
“Sudahlah
pak tua suamiku capek baru pulang kerja, jangan ganggu dia. Sebaiknya kamu
cepat pergi dari rumah kami sebelum saya menelpon polisi untuk membawamu ke
panti jompo.” Istri Joko menarik Joko
dan hendak membawanya masuk kerumah. Joko masih diam tidak merespon
sepatah katapun.
“Joko,
apa kamu sudah ndak ingat lagi sama bapak nak? Ini bapakmu yang
merawatmu, membesarkanmu, menyekolahkanmu, ini bapak nak orang yang
menggendongmu waktu kamu kecil, orang yang mengajarimu keberanian, orang yang menenangkanmu
disaat kamu menangis, apa kamu sudah lupa nak? Apakah harta ini yang membuat
kamu lupa sama bapak? Apakah…”
“Cukup!!
Aku tidak kenal orang sepertimu pak tua, aku tidak punya orangtua yang misikn
dan jelek sepertimu dan lagi bapakku sudah meninggal. Jadi sebaiknya kamu pergi
dari sini sebelum aku naik pitam”
Kata-kat
Joko mengejutkan Somad, dengan sekejap rasa bangga dan bahagianya melihat
kemewahan hidup anak kesayangannya itu lenyap menjadi rasa kecewa dan sakit
yang bertubi-tubi.
Kemudian
Somad meninggalkan anaknya dengan penuh dendam dan kecewa. Dendam pada Bali
yang membuat anaknya menjadi berubah seperti itu, dendam pada istri Joko yang
membuatnya melupakan keluarga dan tanah kelahirannya.
Ia
melangkah lunglai dengan hati hancur, tidak ada raut gembira di wajahnya, tidak
ada lagi gairah hidup. Pandangannya kosong, tidak punya arah dan tujuan yang
jelas.
* * *
Pagi
itu langit enggan menampakkan cahaya matahari lagi, mendung, udara pengap di
kota-kota karena asap kendaraan dan pabrik-pabrik yang tidak terkendalikan. Di
tepi jalan raya tampak orang berkerumun sambil mengucapkan rasa iba. Seorang
laki-laki paruh baya tewas menjadi korban tabrak lari.
Sekian……..
Malang, 21 Februari 2013
Malang, 21 Februari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar