http://www.totallyfreecursors.com/details.cfm/id/4310/Banana_Santa.htm

Translate

Kamis, 21 Februari 2013

cerita pendek


UNTITTLE
Pagi ini langit tampak cerah, matahari merona bersama kicauan merdu burung-burung gereja menambah kehangatan suasana pagi yang indah, udara bersih tanpa asap tebal pabrik, tanpa polusi menentramkan semua yang menghuni daerah ini. Pohon yang rindang bergoyang-goyang disapa semilir angin, sejuk dan membekukan. Anak-anak lari berkejar-kejaran dengan semangat penuh keceriaan, seakan derita tidak pernah berani singgah dalam alur hidup mereka.
“Assalamu’alaikum kek Somad” Sapa mereka riang kepada seorang laki-laki paruh baya yang berjalan tegap dihadapan mereka.
“Wa’alaikumsalam cucu-cucuku” Jawabnya dengan senyum melebar.
“Kakek mau kemana, kok membawa tas besar kayak gitu?” Tanya seorang anak dengan rasa ingin tahunya.
“Kakek mau ke Bali, menengok mas Joko, anak kakek yang bekerja di Bali. Sudah berbulan-bulan dia tidak mengirim kabar pada kakek”
“Ooooh…. !!!!” Suara anak-anak serentak.
“Doakan kakek selamat sampai tujuan, nanti kakek bawakan oleh-oleh yang banyak dari Bali”
“Bener kek?”
“Iya, kakek bawakan kue yang enak-enak dan aneka permainan yang bagus-bagus nanti”
“Baiklah kek, mudah-mudahan kakek cepat sampai di Bali dan bisa bertemu dengan mas Joko. Kami mau main dulu kek, kek Somad hati-hati ya”
“Dadaaaa kek Somad….” Suara anak-anak serentak dan penuh dengan harapan.
Kalimat Tasbih tidak pernah terputus dari mulut Somad di sepanjang perjalan menuju ke Bali, melihat pemandangan-pemandangan yang indah di kota di tambah kebahagiaannya karena akan bertemu dengan anak semata wayangnya.
Setelah berjam-jam di dalam bus, akhirnya Somad sampai di alamat Joko yang tertera dalam amplop surat yang dikirim oleh Joko beberapa bulan yang lalu. Somad terperanjat, kagum melihat rumah yang sangat besar dan megah di depannya, hatinya berbisik bangga “Alhamdulillah le…. ternyata ndak percuma bapak menyekolahkanmu dari SD sampai SMK, akhirnya kamu bisa bekerja dan sukses disini bahkan bisa punya rumah sebesar dan sebagus ini” Sambil senyum lebar ia bergumam dalam hati.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan kasar seorang perempuan muda yang membuka pinti rumah tersebut.
 “Eh,,, bapak nggak bisa baca ya? Pengemis dilarang masuk.” Sapa perempuan itu kasar.
“Kok bengong, ayo cepet pergi sana” Ucapnya lagi ketus.
“Ma’af, apa benar ini rumahnya Joko?” Somad mulai memberanikan diri untuk membuka mulutnya.
“Iya benar, pak tua ini siapa, ada urusan apa dengan suamiku?”
“Apa??? Anda istrinya Joko? Joko sudah menikah?”
“Pak tua ini siapa?? Apa hubungannya pernikahan mas Joko dengan mu?”
“Oh iya, saking senangnya saya sampai lupa mengenalkan diri. Nama saya Somad, saya bapaknya Joko. Joko adalah putra wayang saya, apa dia tidak pernah bercerita tentang ini?”
“Hah,,, bapaknya mas Joko??? Aduh pak tua orang gila saja tidak akan percaya mendengar ini, mana mungkin orang secerdas dan setampan mas Joko mempunyai bapak seperti kamu, sudah tua, jelek, kumuh. Nggak mungkin mas Joko mempunyai bapak seorang gembel kaya kamu. Lagian mas bapaknya mas Joko itu sudah meninggal, jangan mimpi deh pak tua. Sudah-sudah pergi sana” Smabil membentak perempuan itu melontarkan kata-kata kasarnya.
Selang beberapa waktu Somad beradu mulut dengan istrnya Joko, tiba-tiba datang mobil sedan berwarana silver di depan mereka sehingga mereka berdua terdiam. Mata Somad menunggu keluarnya pengemudi mobil sedan itu, dan ketika yang di tunggu telah keluar matanya langsung berbinar-binar karena yang keluar adalah putra kesayangannay, Joko.
“ Joko….!!! Ini bapak nak. Bagaimana kabarmu nak, sudah lama kamu tidak mengirim kabar buat bapak, bapak sangat khawatir jadi bapak nekat menyusul kamu dan Alhamdulillah bapak bisa segera menemukan rumahmu dari alamat yang kamu tuliskan di amplop surat yang kamu kirim beberapa bulan yang lalu. Bapak sangat bangga melihat hasil yang kau peroleh, bapak sangat senang nak melihat kesuksesanmu” Sapa Somad sambil menghampiri putranya yang masih bengong disamping pintu mobil seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Joko, mengapa kamu diam saja nak?”
“Sudahlah pak tua suamiku capek baru pulang kerja, jangan ganggu dia. Sebaiknya kamu cepat pergi dari rumah kami sebelum saya menelpon polisi untuk membawamu ke panti jompo.” Istri Joko menarik Joko  dan hendak membawanya masuk kerumah. Joko masih diam tidak merespon sepatah katapun.
“Joko, apa kamu sudah ndak ingat lagi sama bapak nak? Ini bapakmu yang merawatmu, membesarkanmu, menyekolahkanmu, ini bapak nak orang yang menggendongmu waktu kamu kecil, orang yang mengajarimu keberanian, orang yang menenangkanmu disaat kamu menangis, apa kamu sudah lupa nak? Apakah harta ini yang membuat kamu lupa sama bapak? Apakah…”
“Cukup!! Aku tidak kenal orang sepertimu pak tua, aku tidak punya orangtua yang misikn dan jelek sepertimu dan lagi bapakku sudah meninggal. Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku naik pitam”
Kata-kat Joko mengejutkan Somad, dengan sekejap rasa bangga dan bahagianya melihat kemewahan hidup anak kesayangannya itu lenyap menjadi rasa kecewa dan sakit yang bertubi-tubi.
Kemudian Somad meninggalkan anaknya dengan penuh dendam dan kecewa. Dendam pada Bali yang membuat anaknya menjadi berubah seperti itu, dendam pada istri Joko yang membuatnya melupakan keluarga dan tanah kelahirannya.
Ia melangkah lunglai dengan hati hancur, tidak ada raut gembira di wajahnya, tidak ada lagi gairah hidup. Pandangannya kosong, tidak punya arah dan tujuan yang jelas.
*                                      *                                     *
Pagi itu langit enggan menampakkan cahaya matahari lagi, mendung, udara pengap di kota-kota karena asap kendaraan dan pabrik-pabrik yang tidak terkendalikan. Di tepi jalan raya tampak orang berkerumun sambil mengucapkan rasa iba. Seorang laki-laki paruh baya tewas menjadi korban tabrak lari.
Sekian……..

Malang, 21 Februari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar